Monday, 16 July 2018

Pengalaman Mendaki Gunung Papandayan

Setelah berhasil melalui percobaan pertama mendaki Gunung Gede, saya jadi tertarik untuk kembali mendaki gunung. kali ini saya dan teman-teman akan mendaki Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat. 
Kami memulai perjalanan dengan mobil dari Jakarta pada hari Jum'at, 3 Juni , sekitar jam 11 malam dan tiba dengan selamat di Gerbang Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan, Garut pada hari Sabtu jam 5.30 pagi. sebelum memasuki TWA Gunung Papandayan, kami harus membayar retribusi masuk untuk kendaraan dan penumpangnya.

​mau tau rute perjalanan yang kami lewati?
sepertinya saya gak bisa ceritakan karena lebih banyak tidur selama di perjalanan hehhehehe...

Jam 6 pagi, matahari telah bersinar terang, langit biru dihiasi awan putih tipis. meskipun terlihat terik, namun udaranya dingin, apalagi air nya, bbbrrrrrrr.... dingin banget. dari camp david terlihat asap putih membumbung tinggi yang keluar dari kawah Gunung Papandayan. Camp david itu adalah tempat awal pendakian, berupa lapangan luas yang bisa di pakai untuk parkir mobil, ada toko-toko 

jalur yang harus di lewati ketika mendaki Gunung Papandayan
Sebelum memulai pendakian, kami mengisi perut terlebih dahulu dengan minuman hangat dan aneka gorengan yang tersedia di warung dekat parkir mobil. harganya masih terjangkau lah. setelah di rasa cukup kenyang dan tentunya bayar makanan ke pemilik warung, kami mulai menyandang keril dan berjalan mengikuti arah pendakian. area pertama yang harus kami lewati adalah kawah Gunung Papandayan, jalur bebatuan dan tercium bau belerang yang cukup menyengat. trek di kawah ini lumayan berliku, naik dan turun dan terkadang landai. Sinar matahari mulai terasa hangat di badan dan tak ada pohon pelindung di area ini. namun pemandangan sekitarnya yang begitu mempesona, mampu mengalihkan rasa capek selama pendakian. 

para penikmat gunung berjalan menyusuri jalur pendakian menuju Lawang Angin
Setelah melewati kawah kita akan tiba di Hober Hoet, sebuah jalur persimpangan menuju Hutan Mati, namun mengingat treknya yang terjal, jalur ini di tutup untuk mendaki, hanya untuk turun. dari Hober Hoet, kami berjalan ke arah kanan menuju Lawang Angin. treknya landai mengitari bukit dengan tanah berbatu kecil. di beberapa tempat kita akan melewati jalur yang sempit dan berpohon rindang, jadi bisa istirahat sejenak untuk berteduh.

MasyaAllah.... indahnya ciptaan Allah tak terlukiskan dengan kata-kata. kemegahannya luar biasa dan nikmat yang tiada tara. sulit rasanya bagi saya untuk berhenti mengabadikan keindahan pemandangan alam ini dalam lensa kamera. tak jarang saya di ingatkan oleh teman-teman agar tidak terlalu jauh tertinggal di belakang karena sibuk memotret. tak perlu kamera canggih untuk mengabadikan keindahan ini karena apapun yang di jepret, hasilnya selalu cantik dan mengagumkan.

di sepanjang jalur pendakian ini ada beberapa warung penjual makanan, jadi gak usah khawatir kalo lagi laper. kami pun sempat singgah sejenak di warung makan untuk membeli gorengan dan cilok. saya sih gak nyobain cilok nya, temen-temen aja yang makan. ini sih namanya pendakian santai banget, kebanyaka berhenti buat foto-foto dan jajan di warung. kami pun tiba di Pondok Saladah sekitar jam 10.30 WIB dan segera mendirikan tenda.

di area pondok saladah ada banyak warung yang menyediakan jajanan dan makanan. ada juga mushola dan banyak bilik toilet. sumber air bisa di bilang melimpah. tempat ini sangat cocok bagi pendaki pemula. gak perlu bawa banyak logistik, cukup sediakan uang untuk berbelanja kebutuhan makanan. 
setelah selesai makan siang dan berisitirahat di tenda, kami berjalan menuju hutan mati.

Ketika menjelang waktu shalat Subuh tiba, saya dan mba Tri keluar dari tenda dan menuju toilet untuk berwudhu. udaranya dingiiiinnn banget..... bbbbrrrrrrrrr....... rasanya menggigil. saya berusaha menguatkan diri untuk berwudhu dengan air yang sangat dingin. bibir bergetar karena menggigil. bagaimanapun juga kewajiban terhadap sang Maha Pencipta harus di tunaikan. terimakasih Allah atas segala nikmat-Mu.

semburat warna emas yang di pancarkan cahaya mentari pagi menghiasi langit yang masih gelap
Matahari pagi mulai menyinari bumi, semburat cahayanya terlihat bak warna keemasan. dari sini kita bisa menikmati keindahan Gunung Cikuray yang berdiri kokoh menopang bumi. kami sarapan pagi dengan minuman hangat dan beberapa gorengan, ada sosis goreng, kulit lumpia goreng (kayak pangsit goreng tanpa isi) dan nugget. makan gorengan sambil di cocol kuah bumbu gado-gado, enaknya mantap.

setelah selesai sarapan, sekitar jam 6 pagi kami meninggalkan tenda beserta isinya sambil berdo'a semoga barang-barang yang kami tinggalkan tetap aman dan di jauhkan dari tangan-tangan jahil. cukup bawa barang berharga dan sebotol air minum, berjalan menuju Tegal Alun. rute yang di lewati, Pondok Saladah, Hutan Mati dan memulai trek yang lumayan menantang. pendakian menuju Tegal Alun sangat berbeda dengan pendakian dari camp david menuju pondok saladah. trek menuju Tegal alun lebih terjal dan sebagian tanahnya ada yang basah, jadi mesti hati-hati biar gak kepleset. ngos-ngos an juga sih, tapi begitu mendekati tegal alun dan menengok ke belakang, pemandangannya luar biasa indah. 

1 jam berlalu dan kami akhirnya tiba di Tegal Alun, Gunung Papandayan. sebuah tanah padang luas yang dipenuhi dengan hamparan tanaman bunga edelwis, cantik......
saatnya berpose dengan si cantik Edelwis.

kegirangan bisa nyampe di Tegal Alun, Gunung Papandayan
setelah puas memanjakan mata dengan keindahan edelwis, kami kembali turun menuju hutan mati dan lanjut hingga ke tenda di pondok seladah.

dari hutan mati Gunung Papandayan, kita bisa melihat Gunung Cikurai di seberang sana.
setibanya di tenda, kami segera mengemasi barang-barang dan melipat tenda. saatnya kembali ke base camp. Alhamdulillah hari ini cuacanya cerah, alam menghadiahi kami pemandangan yang luar biasa indah untuk di simpan dalam ingatan. perjalanan turun ke base camp terasa menyenangkan dengan ditemani udara segar pegunungan dan pemandangan indah.

Bukit batu berdiri kokoh mengitari kawah gunung Papandayan
hampir di setiap tempat saya abadikan keindahan Taman Wisata Alam Papandayan dalam lensa kamera, namun rasanya masih kurang puas. i'm gonna miss this place and wish to come back again later.

0 comments:

Post a Comment

Media Partner


Top